Menjelajah “Planet Mars” di Trilumin By Architects of Air

trilumin

Instalasi seni luminarium seniman Inggris Alan Parkinson, Trilumin, kini singgah di Indonesia, tepatnya di Mall Taman Anggrek, Jakarta. Luminarium Trilumin adalah sebuah bangunan yang menggunakan udara sebagai bentuk seni dan akan memukau pengunjung dengan beragam warna dan cahaya yang indah.

trilumin
Lorong dengan warna beragam (source : gojek)

Sejak 1992, Luminaria Architects of Air telah memukau jutaan pengunjung di lebih dari 40 negara, termasuk Kanada, Australia, Norwegia, dan Jepang sebelum akhirnya hadir di Mal Taman Anggrek, Jakarta.

Trilumin terinspirasi oleh keindahan geometris alam, juga arsitektur Islamik. Trilumin memiliki jalur-jalur dan kubah kubah kecil yang dapat dijelajahi oleh pengunjung dan terinspirasi oleh bentuk berulang dari pasar-pasar di lran. Karya seni yang bermain dengan warna-warni pencahayaan yang indah ini hadir di Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat, setelah berkeliling lebih dari 40 negara. Luminarium Trilumin yang dihadirkan ini merupakan hasil kreasi Architects of Air dari lnggris.

Alasan mengapa disebut Luminarium, karena konsepnya yang seperti sebuah akuarium namun Luminarium yang satu ini menyimpan cahaya. Trilumin by Architects of Air efektif dibuka mulai dari 11 hingga 30 September 2018 dan dibuka untuk umum dari pukul 11.00 – 21.00 WIB

trilumin
Tampak atas bagian Trilumin (source : MTA)

Tiket Masuk

Untuk tiket masuk per orangnya sebesar Rp.60.000 per orang. Namun pengunjung bisa memilih pembayaran via Gopay ataupun Tokped untuk mendapatkan potongan Rp.10.000 per tiket.

Trilumin buka 10 jam per hari nya, setiap weekend antrian selalu mengekor panjang. Kurang lebih 30-60 menit mengantri,  dan saat di dalam di batasi selama 30 menit untuk bisa meng eksplor suasana  instalasi seni kelas dunia tersebut

Namun sebelum masuk, ada peraturan yang perlu di perhatikan. Karena di Trilumin hanya memperbolehkan menggunakan kaus kaki. Apabila tidak membawa kaos kaki, dapat langsung membeli disana sebesar 10.000 rupiah untuk satu pasang

Selain sepatu juga dilarang membawa makanan dan minuman ke dalam Trilumin. Setiap pengunjung juga harus menitipkan barang-barang seperti tas dan sepatu.

 

trilumin

 

trilumin
Landmark pertama yang akan di temui, ruang dengan tiang tengah mirip pohon, berwarna hijau, disebut “green tree”.
trilumin
“Red Tree”
trilumin
Blue tree

Seluruh bagian dari Trilumin dipotong dan disambung langsung dengan tangan di workshop yang berlokasi di Nottingham, Inggris. Background musik yang menenangkan juga akan membuat pengalaman mengunjungi Trilumin menjadi semakin spesial dan tak terlupakan yang belum pernah mereka alami sebelumnya di saat mereka berjalan memasuki area Luminarium yang menenangkan.

Saat masuk kita diberikan timer selama 30 menit. Ketika alatnya bergetar, tandanya sudah harus keluar. Bergantian dengan pengunjung lain, Karena maksimal 60 orang di dalam. Ada beberapa tempat di dalam Luminarium dimana pengunjung dapat duduk atau berbaring untuk menyerap suasananya.

 

pengunjung dapat bersantai, rileks, dan menikmati warna-warni cahaya dan alunan musik yang membuat mereka tenang. Pengunjung disini bisa relax dan melupakan penat di luar, karena di sini sangat berbeda, seperti ada di kehidupan lain yang lebih tenang.
Pengunjung akan menemukan landmark mirip pohon sebanyak tiga buah masing-masing berwarna hijau, merah, dan biru. Ketiganya tersebar di dalam Trilumin, dan menyuguhkan latar foto yang berbeda.
trilumin
Main Dome
trilumin
kubah kecil2 yang setiap pinggirannya di beri tata cahaya merah atau biru
Banyaknya lorong dengan berbagai misteri warna tersebut membuat banyak pengunjung bereksperimen untuk foto.
Salah satu titik yang paling banyak digunakan untuk menikmati suasana dan berfoto ialah Main Dome yang berbentuk kubah besar. Kubah besar ini menyajikan paduan motif warna biru dan merah yang menarik, sehingga banyak pengunjung yang berdiam di sana. Pancaran sinar-sinar di sini ternyata berasal dari serapan cahaya luar yang masuk ke bangunan instalasi seni luminarium, karena konsep seni tersebut memang “memenjarakan” cahaya. Benar-benar seperti rumah alien di film.

 

 

trilumin
main dome

Leave a Reply